Protected: Hadiah dari Makassar

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Sosial Media Sebagai Penggerak Opini Publik Bagi Pemuda

Dewasa ini, salah satu penyebab pemuda terkesan apatis dalam hal politik adalah tergeraknya opini – opini menyimpang dalam masyarakat bahwasanya politik itu adalah praktik kotor yang dilakukan demi menduduki suatu kekuasaan. Hal ini tidak mengherankan sebab rakyat khususnya pemuda telah ditampakkan realita tentang bagaimana praktik politik praktis yang dilakukan sebagian oknum pemerintah.

Menurut hasil survey yang telah dilakukan oleh SMRC (2015) menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap politik di Indonesia hanya berkisar 52,9 % saja. Beberapa diantara banyaknya  contoh praktik politik yang telah dilakukan yang dapat mengurangi kepercayaan pemuda untuk berpartisipasi dalam politik misalnya; program yang tak kunjung terealisasi dan praktik korupsi, serta penerapan hukum yang tidak maksimal.

Selain itu, angka kasus korupsi di Indonesia jika terkategori cukup tinggi. Hal yang miris adalah korupsi yang dilakukan pejabat akan melalui proses hukum yang panjang tanpa penyelasaian karena adanya intervensi dari oknum-oknum tertentu. Bagaikan sebuah paku yang tajam keatas namun tumpul ke bawah, masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah  justru mendapatkan hukuman penjara yang lebih berat dan lama jika dibandingkan dengan seorang koruptor yang memiliki sebuah jabatan. Hal ini telah memunculkan opini “ Politik itu kotor” sebab praktik politik hanyalah upaya untuk menduduki kekuasaan untuk menguras harta rakyat. Adapula Anggapan bahwa meski Indonesia merupakan negara hukum, maka hukum yang diterapkan masih dianggap sebagai hukum rimba. Di saat yang sama, anggapan bahwa hukum hanya berpihak pada orang- orang yang memiliki kekuasaan akan semakin memperkuat opini bahwa politik itu kotor.

Partisipasi pemuda dan masyarakat dalam urusan politik pemerintahan sebagai perwujudan dari nilai-nilai demokrasi dinilai sangat krusial. Sebagai contoh, aksi demostrasi yang dilakukan pemuda mampu menggulingkan Presiden Soeharto. Saat itu, mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat sadar betul pentingnya peran mereka sebagai penyambung aspirasi masyarakat. Sebagai bentuk peran politik yang mereka lakukan adalah dengan melakukan unjuk rasa besar-besar menuntut kezaliman pemerintah terhentikan.

Hal yang sangat jauh berbeda terlihat pada masa sekarang. Mahasiswa sebagai penyampai aspirasi masyarakat hanya disibukkan dengan urusan-urusan pribadi. Ada yang berpikir tentang bagaimana mampu menuntaskan studi dengan IPK terbaik lalu bekerja, atau dengan berusaha meraih pendidikan setinggi-tingginya dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan semata. Potret buram saat ini menunjukkan sikap yang terkesan apatis dan individualis.

Ketika dahulu mahasiswa kritis dengan problematika rakyat, namun saat ini mahasiswa menjadi awam politik. Mengapa demikian? Salah satu alasannya mereka enggan lagi berurusan dengan permasalahan politik karena adanya opini bahwa politik itu kotor. Opini  ini telah terinternalisasi dalam diri sebagian pemuda.

Ketika opini keliru itu terinternalisasi sempurna dalam diri masyrakat khususnya pemuda, maka tentu diperlukan adanya kesadaran untuk berperan serta dalam kegiatan perpolitikan sebagai bentuk kepedulian bangsa terhadap kemajuan negara. Opini keliru tersebut hanya mampu di lawan sebuah opini yang lain. Tentu yang dimaksud disini adalah opini publik untuk membangun kesadaran politik.

Bernard Berelson , seorang pakar  ilmu komunikasi mendefinisikan opini publik sebagai pertukaran informasi yang membentuk sikap, menentukan isu dalam masyarakat dan dinyatakan secara terbuka. Opini publik sebagai komunikasi mengenai soal-soal tertentu yang jika dibawakan dalam bentuk atau cara tertentu kepada orang tertentu akan membawa efek tertentu pula.

Salah satu opini yang cukup viral kemarin ini adalah tulisan dari salah satu pelajar bernama Afi Nihaya Faradisa. Tulisannya terkait tentang agama warisan telah membuat kontroversi. Masyarakat secara tidak langsung mengkaji tentang benarkah agama adalah warisan dari orang tua atau tidak. Atau bahkan video kontroversi Ahok melalui akun youtube yang mampu mengajak masyarakat untuk berpikir secara politis.

Tidak mengherankan mengapa beberapa hal dapat menjadi viral dengan cepat. Hal ini dikarenakan adanya teknologi canggih yang memudahkan pemerolehan informasi, salah satunya adalah dengan menggunakan media sosial. Jika pemuda sebagai penggerak opini mampu menuliskan gagasan dan opini baru tentang berita politik dengan bahasa ringan dan persuasif, maka tentu saja kesadaran masyarakat dapat terbangun.

(gambar, from google)

Ruh Juga Perlu Makan

Diblokirnya mikroblog tumblr jadi pukulan berat untukku,dan banyak orang diluar sana. Bagaimana tidak, apk yg hampir tiap malam kuisi bagai diary itu harus jarang2 kuakses. Kalaupun bisa diakses, ribetlah jadinya.

Sebelumnya, aku curiga akunku di blokir sama orang. Soalnya, pernah suatu malam aku chat dengan orang asing(bule). Karena sudah jam 3 pagi, aku ninggalin dia tidur. Takutnya dia gak senang diperlakukan seperti itu dan akhirnya blokir aku. Tapi ternyata, malah apk nya yg diblokir sama negara tercinta.

Rasanya seperti kehilangan berat. Meski pada saat aku menulis ini, sudah hampir 1 minggu dari berita diblokirnya tumblr. Aku jadi jarang nulis (banget). Di diary jarang, di ig juga udah gak update lagi. Rasanya, agak hampa gitu. Soalnya, mungkin menulis bagiku, adalah salah satu kegiatan mengisi ruh seperti kajian ilmu agama.

Manusia itu diciptakan dengan 3 komponen, jasmani, akal dan ruh. Ketiga komponen ini harus diberi makan biar dapat berfungsi optimal Kalau jasmani yah, makannya nasi dan minum air. Kalau akal, belajar dan mengimplementasikan ilmu. Kalau ruh, hubungan yg baik kepada Sang Pencipta.

Manusia tanpa ruh itu hanyalah seonggok mayat. Fisik kita tak bisa apa-apa ketika tiada ruh yg mengaktifkannya. Dari mana kita bisa tahu ruh kita sedang lapar? dari malas yg berapi-api. Jenuh, yg menggunung, dan kebingungan tiada titik terang. Jasad rasanya mulai membusuk, lemah dan tak berguna. Kita merasa hidup ini apalah artinya, kenapa aku hidup, kenapa aku dihidupkan, untuk apa aku hidup.

Ketika ruh, lama tak diberi makan. Bisa-bisa kita keluar dari koridor kehidupan. Kita banyak lupa tujuan kita bernafas, lupa kemana akhirnya kita akan berlabuh. Kita lupa sang pencipta (soalnya sering sih). Pada akhirnya, kita akan menyesal banyak sekali.

Itulah mengapa Tuhan menciptakan ketiga komponen yg memberinya energi pun tidak sulit. Kalau lapar yah makan. Kalau malas lagi, nanti matilah. Tapi, entah mengapa kita selalu malas memberi makan ruh yg pelaksanaannya juga wajib. Seperti shalat, dan ibadah lainnya.

Karena yah, terlalaikan hal lain alias sibuk ditempat lain. Padahal kita tahu banget nih apa yg akan terjadi pada akhirnya. Hanya, kita sering pura-pura lupa, pura-pura gak tahu. Biar seperti angkat tangan aja. Kita terlalu gengsi untuk mengakui, betapa lemahnya kita. Terlalu sombong akan hidup yang sudah diberi.

Sebelum itu semua terjadi, dan jangan sampai terjadi. Merenung saja banyak-banyak, tapi jangan kebanyakan. Habis itu take an action dan tunggulah cutnya. Selamat makan.

Btw, gak buruk juga yah nulis disini.

Jalan Pulang ke Desa yang Anti Mainstream

Sebagian dari kita mungkin berasal dari desa. Desa sejak lama, telah dijadikan sebagai tempat hiburan sendiri, untuk mudik, untuk memupuk rindu, atau cari jodoh. Masyarakat desa pun bisa dibilang sebagai kenyataan dari warga pribumi di Indonesia, yang membangun Indonesia dalam diam. Ketika pembangunan di desa bobrok alias tidak sesuai harapan, pastilah tidak akan tercapai harapan suatu bangsa. Lihat saja bagaimana semua kampanye yang kesuksesannya berasal dari desa, terkadang dibumbui ‘politik kotor’. Setelah para pemimpin itu terpilih, mereka lalu memanipulasi segala saluran uang yang seharusnya mengalir ke desa, menuju kantongnya. Sementara para penduduk desa yang semangatnya menggebu gebu saat di berikan orasi kampanye yang penuh janji palsu hanya terseret seret oleh kebijakan yang jarang sekali menguntungkan mereka.

Inilah, bagaimana transparansi dana desa mungkin perlu diketahui oleh penduduk desa itu sendiri. Bertambahlah lagi beban rakyat, untuk mengawasi pemimpinnya sendiri. Bukankah seharusnya, rakyat hanya perlu hidup tentram, dan bekerja sebagai ‘rakyat’ karena mereka sudah memilih pemimpin yang mereka percayai untuk mengurusi segala kepentingan yang akan mereka dapatkan. Bukankah itu esensi demokrasi?? Tapi, bagaimana pun juga, masalah ada untuk diselesaikan.

Saya punya sedikit cerita di desa yang terletak di kecamatan Bangkala di Sulawesi Selatan. Salah satu desa disana, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tidak memiliki perubahan berarti, justru yang ada adalah beberapa kasus korupsi yang dilakukan oleh penduduk setempat yang memiliki jabatan tertentu dalam sebuah instansi. Mungkin hal tersebut dipicu oleh kurangnya transparansi dana desa. Sehingga memudahkan tangan tangan jahil untuk menjamah yang bukan haknya.

Rata-rata pemuda yang yang tinggal di desa pun lebih sering memilih untuk pergi keluar desa mencari kehidupan yang lebih ‘segar’. Setelahnya, jarang ada yang mau kembali ke desanya untuk membangun desanya. Cukup miris namun ini merupakan fenomena nyata yang terjadi di hampir seluruh desa di Indonesia. Adapun pemuda yang memilih tetap tinggal di desa, namun partisipasi untuk membangun desa masih minim.

Mereka yang masih tinggal di desa, biasanya dengan apa adanya hanya bertani dan tak jarang menjadi perjaka tua. Gerakan bersifat pemuda juga cukup tidak terlihat. Contohnya remaja masjid yang bahkan tidak ada, masjidnya hanya diisi oleh para tetua dan imam kampung yang juga sudah tua. Mungkin alasan yang melatarbelakangi semua itu, ialah kurangnya semangat membangun desa oleh generasi pemuda. Mereka lebih memilih untuk hidup di zona nyaman saat berhasil di perkotaan.

Dibalik itu semua, dukungan pemerintah juga terlihat pasif. Saya juga punya pengalaman saat berkunjung ke Kampung Kreatif Dago Pojok yang terletak di Bandung. Dulunya kampung tersebut cukup terbelakang, dan hampir saja mati ketika dilakukan pembangunan proyek yang terleltak tak jauh dari posisi kampung itu. Kemudian, bagai seorang pahlawan datanglah seorang pria yang disapa Kang Rahmat. Kang Rahmat merupakan pegiat seni yang mencoba membangun kampung dago pojok untuk tetap hidup sebagai kamlung kreatif. Dimana penduduk disana di suguhi berbagai macam produksi karya kreatif dengan nilai seni yang tinggi. Seoerti permainan wayang golek khas Sunda, batik, kriya, kaos sablon, lukis, dan masih banyak lagi.

Dinding-dinding rumah yang dulunya buta oleh warna, kini dihiasi oleh mural yang penuh makna. Anak-anak sampai orang dewasa pun selalu digiatkan untuk bekerja dengan cara kreatif. Hingga pada akhirnya kampung tersebut menjadi cukup terkenal, bahkan menjadi salah satu objek wisata di kota Bandung.

Namun yang cukup disayangkan adalah, sikap pemerintah yang cukup acuh dengan adanya kampung kreatif tersebut. Sehingga membuat penduduk disana menjadi terlampau mandiri untuk membangun kamlungnya, tanpa bantuan pemerintah. Justru mereka yang membantu pemerintah dalam hal pembangunan di sektor pariwisata.

Bisa jadi, membuat kampung kreatif adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk membangun desa. Dengan kampung kreatif, penduduk bisa menjadi produktif dalam menghasilkan berbagai produksi sehingga dapat menopang berbagai kehidupan di dalamnya. Pemuda juga dapat berpartisipasi disana, dan tidak perlu lagi ke kota. Jika saja dahulu Bung Karno butuh 10 pemuda untuk membangun negara ini, mungkin sebuah desa hanya butuh 1 pemuda untuk menggerakkan perubahan. Kalau desanya sudah keren pasti jatuhnya bikin betah, dan tidak perlu kesulitan memupuk rindu lagi.

#pemudaantikorupsi #acyc2017 #pemudamendesa #lawankorupsi